Rabu, 08 Desember 2010

Zaman pra Sejarah Jepang

Zaman Paleolitik Jepang adalah zaman yang dimulai ketika manusia mulai bertempat tinggal di kepulauan Jepang mungkin sekitar 30.000 tahun lalu atau 100.000 tahun lalu berdasarkan bukti barang peninggalan berupa alat dari batu, dan diakhiri dengan dimulainya zaman Jomon

Zaman Jōmon adalah sebutan zaman prasejarah kepulauan Jepang yang dimulai dari akhir zaman Pleistosen hingga zaman Holosen. Zaman ini ditandai dengan mulai digunakannya barang-barang tembikar

Kegiatan manusia pada zaman Jōmon dalam mencari makanan bergantung pada tempat tinggalnya. Manusia mencari makan sebagai pemburu dan pengumpul jenis tanaman yang bisa dimakan.

Zaman Yayoi adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang mengacu pada Jepang (dengan perkecualian Hokkaido) di abad ke-8 sebelum Masehi hingga abad ke-3 Masehi.

Ciri khas pada barang peninggalan berupa tembikar gaya zaman Yayoi dan penguasaan teknik penanaman padi di sawah.

Zaman Yamato adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang dimulai sekitar abad ke-4 sampai abad ke-6.

Zaman ini ditandai dengan Sistem politik berdasarkan sistem hukum Ritsuryō mulai diperkenalkan pada saat ini, istana kaisar memperbarui sistem nama klan dan nama keluarga. Juga masukya agama Buddha di Jepang di mulai di pertengahan zaman ini.

Kerajaan Yamato

Kerajaan Yamato adalah kerajaan yang berdiri pada zaman Yamato (Yamato Jidai). Namun terkadang zaman Yamato disebut pula zaman Asuka atau zaman Kofun. Hal ini disebabkan karena pada buku sejarah tempo dulu, zaman Kofun dan zaman Asuka pernah disatukan menjadi zaman Yamato, tapi dalam buku sejarah modern kedua zaman ini dianggap sebagai dua zaman yang terpisah.

Periode Kerajaan Yamato atau zaman Yamato dimulai sekitar abad ke-4 sampai abad ke-6.

Zaman Yamato berada di tengah-tengah zaman Yayoi dan zaman Nara. Zaman ini ditandai dukungan terhadap tahta Yamato yang semakin kuat dan pembangunan Kofun yang berkelanjutan di berbagai tempat.

Yang menonjol untuk menandai zaman ini adalah diperkenalkannya sistem politik berdasarkan sistem hukum Ritsuryō, istana kaisar memperbarui sistem nama klan dan nama keluarga, memberlakukan sistem pajak terpadu, dan tanah milik bangsawan semuanya diklaim sebagai milik kaisar, dan memperbarui organisasi pemerintahan daerah ke arah pemerintah sentralisasi.

Pada masa ini pula agama Buddha diperkenalkan.

Berikut adalah peninggalan dari zaman Yamato yang masih dapat di temukan dibeberapa perfektur Jepang.

1. Kofun adalah makam kaisar atau bangsawan dengan tanah yang dibuat membukit yang menempati lokasi yang berbentuk perpaduan lingkaran dan persegi empat seperti lubang kunci.

2. Houryouji adalah kuil Buddha yang berlokasi di Nara, yang dibuat pada akhir periode Yamato atau Asuka abad 8.

3. Haniwa adalah patung tanah liat yang dibuat untuk diikut sertakan dalam kubur para bangsawan atau kaisar.

Kappa

Kappa (河童, Kappa "anak sungai"), dipanggil juga Gatarō (川太郎, Gatarō "anak sungai") atau Kawako (川子, Kawako "anak sungai"), adalah makhluk legenda; suatu jenis peri air yang ditemukan dalam cerita rakyat Jepang. Meski demikian mereka juga dianggap sebagai bagian dari cryptozoology, yang disebabkan oleh beberapa penampakan. Dalam aliran Shinto mereka dianggap sebagai satu dari banyak suijin (literally "dewa air").

Kebanyakan gambaran memperlihatkan kappa sebagai humanoid seukuran anak, meskipun tubuh mereka lebih menyerupai monyet atau kodok daripada manusia. Beberapa keterangan menyatakan wajah mereka seperti kera, sementara yang lain memperlihatkan mereka dengan paras berparuh yang lebih mirip kura-kura atau bebek. Gambar-gambar biasanya menampilkan kappa dengan cangkan yang tebal dan kulit bersisik dengan warna antara hijau ke kuning atau biru.

Kappa menempati kolam-kolam dan sungai–sungai Jepang dan memiliki beragam tampilan untuk menolong mereka di lingkungan ini, seperti tangan dan kaki yang berselaput. Mereka kadang-kadang juga disebut memiliki bau seperti ikan, dan mereka dapat berenang seperti mereka. Ungkapan kappa-no-kawa-nagare ("seekor kappa tenggelam di dalam sungai") menyampaikan maksud bahwa bahkan ahli pun membuat kesalahan.

Sesuatu yang paling dapat dicatat dari Kappa, meski demikian, adalah lekuk berisi air di atas kepala mereka. Rongga-rongga ini dikelilingi oleh rambut tipis, dan potongan rambut jenis ini dinamai okappa-atama dari makhluk-nakhluk ini. Kappa mendapatkan kekuatan mereka yang luar biasa dari lubang-lubang berisi cairan ini, dan mereka yang berhadapan dengannya dapat memanfaatkan kelemahan ini dengan membuat Kappa menumpahkan air tersebut dari kepala mereka. Kappa memiliki rasa etika yang dalam, jadi sebuah metode yang dipercaya untuk menarik perhatian, untuk sebuah kappa tidak dapat lagi selain membalas dengan bungkukan yang dalam, meski ini mengakibatkan hilangnya kepala-air dalam prosesnya. Ketika habis, Kappa melemah dan mungkin mati. Cerita lain mengatakan bahwa air ini memungkinkan kappa untuk bergerak di darat, dan ketika kosong, makhluk ini tidak dapat bergerak. Anak-anak keras kepala didorong untuk mengikuti kebiasaan membungkuk hingga ke tanah yang merupakan pertahanan dalam melawan kappa.

Lama tak bersua...

Hay...Hay...Saya memutuskan mem-posting semua tugas-tugasku waktu masih di Sastra Jepang dulu. Menurutku itu ilmu pengetahuan kan berasal dari alam, jadi semestinya di bagi percuma layaknya alam memberikan kita hasil dari tubuhnya. Terserah kalian mau copy-paste-kumpul kalau ada tugas, mencantumkan atau tidak dari mana sumbernya, terserah. Toh saya juga dulu kerja semua tugas ini juga kebanyakan dari internet. Soalnya literatur tentang Jepang berbahasa Indonesia kan masih kurang. Jadi....selamat menikmati