Senin, 14 Maret 2011

Ososhiki (Upacara Penguburan)

Kematian adalah salah satu fase yang sangat sakral bagi kehidupan manusia. Tak jarang upacara pun dilakukan katika fase itu tiba masanya. Begitu pula yang terjadi di Jepang. Negara matahari ini pun memiliki upacara pemakaman tersendiri. Pada umumnya upacara pemakaman yang diadakan mengikuti tata cara ajaran Budha, yakni mayat dibakar. Upacara pemakaman ini di sebut ososhiki atau sogi. Pada upacara ini mayoritas pelayat menggunakan pakaian hitam. Pelayat pun membawa uang untuk diserahkan kepada keluarga yang meninggal. Uang itu disebut koden.
Pada saat Ososhiki, mayat dimasukkan dalam peti mati lalu diletakkan dibagian depan ruangan upacara. Foto orang yang meninggal ditaruh di atas peti. Upacara ditandai dengan adanya seorang Biksu yang memandu doa tepat di depan peti mayat, diikuti oleh para tamu yang berdiri di belakang sambil memegang senko atau dupa. Doa selesai, senko ditancapkan di tempat yang disediakan.
Upacara pemakaman orang Jepang biasanya diadakan di rumah atau di kuil. Menurut laporan Asosiasi Konsumen Jepang pada 2007, ongkos rata-rata pemakaman mencapai US$21.500 (sekitar Rp199,9 juta), termasuk US$5.100 (sekitar Rp47,4 juta) untuk jasa para biksu. Tapi, jumlah itu belum meliputi tanah makam. Atas dasar itu, warga Jepang mulai beralih ke rumah duka. Agar tidak begitu banyak mengeluarkan biaya.
Rangkaian upacara selanjutnya adalah pembakaran mayat. Setelah ososhiki mayat dalam peti dibakar di Kousouba atau tempat khusus untuk pembakaran mayat. Setelah itu abu mayat dimasukkan dalam kutsusubo yang berarti pot tulang.
Proses selanjutnya dikembalikan kepada keluarga yang meninggal. Ada 3 proses yang biasa dilakukan, yakni membuang abu mayat di sungai, menyimpannya dalam kuil, atau membuatkan haka atau nisan kuburan.
Orang jepang biasanya menziarahi kuburan sanak keluarganya di Hari Ulang Tahunnya, di Tahun Baru, dan pada saat obon di bulan Agustus sambil membawakan barang-barang kesukaannya, seperti buah-buahan, sake, bunga. Kemudian dibakarkan dupa (senko).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar