Senin, 14 Maret 2011

Yukio Mihima

Yukio Mishima adalah penulis ternama era modern Jepang atau di abad 20. Ia pernah 3 kali dicalonkan sebagai pemenang Nobel. Nama aslinya Hiraoka Kimitake. Ia menggunakan nama Yukio Mishima karena tidak ingin dikenali oleh ayahnya yang tidak suka literatur.
Di antara karyanya yang paling menonjol adalah The Temple of The Golden Pavilion dan tetralogi The Sea of Fertility (1965-70).
Lahir di Tokyo 14 Januari 1925
Wafat pada 25 November 1970
Karya-karya:
-Kuil kencana -Sun and steel
-After the banguet -The sound of waves
-The temple of dawn -Thist for love
-Spring snow -Runaway horses
-Madame de sade -The Temple of the Golden Pavilion
-Gogo No Eiko -Kyouko No Ie

Karya-karyanya yang banyak diterjemahkan dalam bahasa Inggris maupun Belanda itu telah mengangkat namanya sebagai penulis roman dan drama Jepang terkemuka. Ia patut diperhitungkan. Selain itu Mishima juga menulis puisi, essai, dan naskah Kabuki modern serta Noh.

Ia banyak bicara tentang pengalaman bawah sadar, tak hanya soal seksualitas yang seperti diilhami oleh pikiran-pikiran Sigmund Freud, tetapi juga sikap 'kerasnya' yang kemudian membawanya pada kematian.

Mishima merupakan sosok yang konsisten. Menyatukan kenyataan dan harapan. Idealisasi buatnya haruslah sama dengan realitas. Sikap tidak boleh beda dengan tindakan. Tidaklah heran ketidaksetujuannya dengan kebijakan pemerintah Jepang yang dianggapnya terlalu pasif kemudian membawanya pada hidup akhir yang mulia: harakiri.
Adakah dengan demikian sikap Mishima salah? Setiap jaman punya nafas. Dan nafas jaman masa-masa itu adalah macam itu. Di Indonesia, misalnya, penyair Khairil Anwar, sikap dan perbuatannya juga tak jauh beda dengan Mishima. Ia terkesan arogan dan liar, ekspresi dari karyanya, 'Aku binatang jalang, dari kumpulan terbuang'.

Sikap dan tindakan haruslah sama. Itu merupakan bagian dari eksistensi diri sebagai seniman. Ia tak perlu memoles penampilan, atau gamang untuk menuangkan gagasan dan pikiran bawah sadar yang terkadang dinilai tidak etis bagi sebuah jaman. Tujuannya hanya satu 'sekali berarti habis itu mati'.

Jaman itulah romantisme gaya Romeo dan Yuliet Shakespeare mulai tak dikenal. Jaman baru yang memayungi Khairil Anwar maupun Yukio Mishima adalah 'jaman reformasi' bagi kebangkitan sastra yang indah tetapi tidak harus dengan kata-kata elok. Era merekalah era dobrak-dobrakan, yang membongkar batasan indah dan jorok, harmonis atau chaos menjadi sesuatu yang bias.

SATU pelajaran dari Mishima Yukio, pengarang dari Jepang yang terkenal itu, adalah sebuah nasihat yang diuraikan panjang lebar dalam karangan-karangannya. "Kian lama orang hidup," katanya, "kian buruk saja mereka jadinya."
Mishima sangat berjiwa patriot, ia menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Jepang seperti semangat keprajuritan Bushido dan sangat loyal kepada Kaisar. Semangat militernya semakin kuat di akhir tahun 60-an dan ia mengumpulkan anak buah yang direkrutnya menjadi tentara swasta dengan nama pasukan Tatenokai, yang berarti Pelindung Masytarakat.
Pada 25 November 1970, Mishima membawa beberapa anak buahnya ke markas besar militer Jepang. Karena terkenal dan dianggap tidak berbahaya, penjaga membiarkan ia masuk membawa samurai. Tindakan ceroboh, karena Mishima dan tentaranya kemudian menyandera sang Komandan Markas di ruangannya. Mishima kemudian menuntut agar para tentara dikumpulkan di halaman untuk mendengarkannya berpidato agar para prajurit Jepang bangkit membela konstitusi, Kaisar dan melawan pengaruh dan budaya barat. Bisingnya suara sirine polisi, helikopter pers dan teriakan-teriakan, “Hey gila, turun kau!” membuat pidatonya sia-sia. Ia masuk ke dalam ruangan lagi dan kali ini melakukan ritual seppuku dibantu anak buahnya. Sang jenderal yang disandera hanya bisa kengerian menyaksikan Mishima merobek perutnya sendiri dan salah seorang anak buahnya memenggal kepalanya sebagai bagian dari aksi edan itu
Yukio Mishima pernah membintangi sebuah film yang diangkat dari novelnya sendiri tahun 1961 berjudul Yukoku (patriotisme). Film itu ditemukan di rumah mendiang penulis itu di kecamatan Ota, Tokyo pada tahun 1996.
Sebelumnya, film tersebut diyakini telah hilang lantaran edisi cetaknya, yang diproduksi ulang untuk kepentingan komersial pada 1966, telah hangus dibakar atas permintaan istri Mishima pada 1971 setelah sang penulis melakukan bunuh diri secara "harakiri" tahun 1970 di garnisun Angkatan Darat Pasukan Bela Diri Jepang di Tokyo.
Film hitam-putih berdurasi 30 menit itu diperkirakan mengungkapkan tanda-tanda kematian Mishima, karena menampilkan adegan seorang letnan yang melakukan harakiri, dalam kejadian yang dikenal sebagai peristiwa 26 Februari.
Peristiwa tersebut merupakan upaya kudeta militer di Tokyo pada 26-27 Februari 1936, yang menyebabkan sejumlah tokoh politik terbunuh termasuk serangan di kediaman perdana menteri Jepang.
Kendati film tersebut singkat tetapi mendapat sambutan hangat ketika diluncurkan pada 1966, kata kritikus film Tadao Sato dengan menambahkan bahwa film itu memberi petunjuk bagaimana Mishima mengakhiri hidupnya.
Banyak yang mengatakan karya-karya Yukio Mishima yang penuh gelora namun mengandung nuansa kelembutan.

A. ANISTAHARA A.P EKA WULANDARI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar